Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Pengantar/ Landasan Pendidikan’ Category

A. TUJUAN

     Setelah mengikuti perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu memahami dan mengkritisi asumsi-asumsi yuridis yang mendasari studi dan praktek pendidikan

 

B. DESKRIPSI MATERI KULIAH

1. Pengertian Landasan Yuridis Pendidikan  

     Landasan yuridis pendidikan Indonesia adalah  seperangkat konsep peraturan perundang-undangan yang menjadi titik tolak  system pendidikan Indonesia, yang menurut  Undang-Undang  Dasar 1945 meliputi, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, Ketetapan MPR, Undang-Undang Peraturan Pemerintah  pengganti undang-undang, peraturan pemerintah, Keputusan Presiden, peraturan pelaksanaan lainnya, seperti peraturan Menteri, Instruksi Menteri, dan lain-lain.

a. UUD 1945 sebagai Landasan Yuriidis Pendidikan Indonesia

b. Pancasila sebagai Landasan Idiil Sistem Pendidikan Indonesia

c. Pasal-Pasal  UUD 1945 sebagai Landasan Yuridis Pendidikan Indonesia

d. Ketetapan MPR sebagai Landasan Yuridis Pendidikan Nasional

e. Undang-Undang  sebagai Landasan Yuridis Pendidikan Nasional

1)   Latar Belakang Perlunya UU No. 2 th 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional

2) Ketentuan Umum Undang – Undang No 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional

3) Satuan,  Jalur dan Jenis Pendidikan

4) Jenjang Pendidikan

f. Peraturan Pemerintah sebagai Landasan Yuridis Sistem Pendidikan Nasional

g. Keputusan Presiden sebagai Landasan Yuridis  Pelaksanaan Pendidikan Nasional

h. Keputusan Menteri sebagai Landasan Yuridis Pelaksanaan Pendidikan Nasional

i. Instruksi Menteri sebagai Landasan yuridis Pelaksanaan Pendidikan Nasional

Read Full Post »

A. TUJUAN

      Setelah mengikuti perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu memahami dan mengkritisi asumsi-asumsi social yang mendasari studi dan praktek pendidikan

 

B. DESKRIPSI MATERI KULIAH

1. Pola Kegiatan Sosial Pendidikan

            Ada tiga pola kegiatan social dalam pendidikan , yaitu  (a) Pola Nomothetis (The nomothetic style); (b) pola idiografis (the idiografic style), dan  (c) pola transaksional (the transactional style).

2.  Pola Nomothetis

Pola nomothetis lebih menekankan pada  dimensi tingkah laku yang bersifat normatif atau nomothetis, dengan demikian pendidikan lebih mengutamakan pada tuntutan-tuntutan instiitusi (pranata), peranan yang seharusnya (ascribed role) dan harapan-harapan atau cita-cita social, dari pada  tuntutan-tuntutan yang bersifat perorangan, kepribadian dan kebutuhan individu.  Dalam hal ini pendidikan dibataskan sebagai urusan mewariskan milik social kepada generasi muda, pendidikan adalah proses sosialisasi individu ( socialization of personality). Hal ini menimbulkan  aliran sosiologisme dalam pendidikan.

3.  Pola Idiografis

            Pola Idiografis lebih mnekankan pada dimesnsi tingkah laku  yang bersifat tuntuitan individual, kepribadian dan persorangan. Pendidikan dibataskan sebagai urusan membantu seseorang  mengembangkan kepribadiannya seoptimal mungkin. Pendidikan adalah personalisasi peranan ( personalization of role). Hal ini menumbuhkan Psikologisme dalam pendidikan atau developmentalisme.

4. Pola Transaksional          

Pola transaksional berusaha menjembatani antara pola nomothetis dan pola idiografis, hal ini berarti  menjembatani anatara tuntutan, harapan dan peranan social dengan tuntutan, kebutuhan  dan  individual. Pola transaksional memandang pendidikan sebagai sebuah sistem social  yang mengndung ciri-ciri  bahwa (1) setiap individu mengenali betul  tujuan system sehingga tujuan tersebut menjadi bagian dari kebutuhan dirinya, (2) setiap indiiviidu yakin bahwa harapan-harapan social yang dikenakan pada dirinya masuk akal untuk dapat dicapainya, dan (3) setiap individu merasa bahwa dia termasuk dalam sebuah kelompok dengan suasana emosional yang sama.

            Eric Berne dalam  bukunya “ Games people play” dan A. Harris dalam bukunya “ Iam O.K. You are O.K.. A Practical Guide to Transactional Analysis “ mengemukakan empat pola dasar hubungan transaksional, yaitu : (1) I am  not O.K. – You are O.K.; (2) I am  O.K. – You are not O.K.; (3) I am not O.K. – You are not O.K., (4)  I am O.K. – You are O.K.. Pola keempatlah  yang diharapkan menjadi dasar pola hubungan dalam pendidikan.

Read Full Post »

A. TUJUAN

      Setelah mengikuti perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu memahami dan mengkritisi asumsi-asumsi histories yang  mendasari pendidikan Indonesia

 

B. DESKRIPSI MATERI KULIAH

1. Kondisi sosial budaya  

     Landasan  Histories pendidikan Indonesia adalah  cita –cita dan praktek-praktek pendidikan masa lampau. Dilihat dari kondisi social budaya , pendidikan masa lampau  Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga  tonggak sejarah, yaitu 

a. Pendidikan Tradisional , yaitu penyelenggaraan pendidikan di nusantara yang dipengaruhi oleh agama-agama besar di dunia  Hindu, Budha, Islam dan Nasrani  (katolik dan protestan)

b. Pendidikan kolonial Barat, yaitu penyelenggaraan pendidikan di nusantara yang dipengaruhi oleh pemerintahan kolonial barat, teutama kolonial Belanda

c. Pendidikan kolonial Jepang yaitu penyelenggaraan pendidikan di nusantara yang dipengaruhi oleh pemerintahan kolnial Jepang dalam zamanperang dunia II

2.  Implikasi Kondisi social  Budaya  terhadap Pendidikan

Kondisi social budaya dari ketiga tonggak sejarah pendidikan tersebut  mempunyai  implikasi terhadap penyelenggaraan pendidikannya dalam hal tujuan pendidikan, kurikulum /.isi pendidikan, metode pendidikan, dan pengelolaannya,  dan kesempatan pendidikan.

Read Full Post »

A. TUJUAN

Setelah mengikuti perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu memahami dan mengkritisi asumsi-asumsi sosiologis dan antropologis pendidikan.

 

B. DESKRIPSI MATERI

1. Individu, Masyarakat dan Kebudayaan

 

Individu adalah manusia perseorangan sebagai satu kesatuan yang tak dapat dibagi, unik, dan sebagai subjek otonom.

Masyarakat di definisikan Ralph Linton sebagai “setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerjasama  cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas”; sedangkan Selo Sumardjan mendefinisikan masyarakat sebagai “orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan. Koentjaraningrat (1985)  mendefinisikan  kebudayaan sebagai “keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar”.

 

Di dalam masyarakat terdapat struktur sosial, dan dalam struktur sosial tersebut setiap individu menduduki status dan peranan tertentu. Dalam rangka memenuhi kebutuhan atau untuk mencapai tujuannya, setiap indivdu maupun kelompok melakukan interaksi sosial, adapun dalam interaksi sosialnya mereka melakukan tindakan sosial. Tindakan sosial yang dilakukan individu hendaknya sesuai dengan status dan perananya yang mengacu pada sistem nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat, atau secara umum  harus sesuai dengan kebudayaan masyarakatnya. Masyarakat menuntut demikian agar terjadi conformity. Jika tidak demikian halnya, idividu akan dipandang melakukan penyimpangan tingkah laku terhadap nilai dan norma masyarakat (deviant behavior).Terhadap individu demikian masyarakat akan melakukan social controll.

 

Manusia hakikatnya adalah makhluk bermasyarakat dan berbudaya, dan masyarakat menuntut setiap individu mampu hidup demikian. Namun karena manusia tidak secara otomatis mampu hidup bermasyarakat dan berbudaya, maka masyarakat melakukan pendidikan atau sosialisi (socialization) dan atau enkulturasi (enculturation). Dengan demikian diharapkan setiap individu mampu hidup bermasyarakat dan berbudaya sehingga tidak terjadi penyimpangan tingkah laku terhadap sistem nilai dan norma masyarakat.

 

2. Pendidikan, Masyarakat dan Kebudayaan

Individu maupun masyarakat sebagai suatu kesatuan individu-indi vidu mempunyai berbagai kebutuhan. untuk memenuhi berbagai kebutuhan tersebut masyarakat membangun atau mempunyai pranata sosial. Salah satu diantaranya adalah pranata pendidikan. Pendidikan merupakan pranata sosial yang berfungsi melaksanakan sosialisasi atau enkulturasi.

 

Terdapat hubungan antara pendidikan dengan masyarakat dan kebudayaannya. Kebudayaan menentukan arah, isi dan proses pendidikan (sosialisasi  atau enkulturasi). Sedangkan  pendidikan memilki fungsi konservasi dan atau fungsi kreasi (perubahan, inovasi) bagi masyarakat dan kebudayaannya.

 

Berbagai pandangan atau teori antropologi dan sosiologi  yang menggambarkan fungsi atau peranan pendidikan dalam hubungannya dengan masyarakat dan kebudayaannya antara lain:    pandangan Superorganik dan Konseptualis (antropologi); sedangkan teori sosiologis meliputi : teori Struktural Fungsional, Konflik, Interaksi Simbolik, dan teori Labeling.

Read Full Post »

A. TUJUAN

Setelah mengikuti perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu memahami dan mengkritisi asumsi-asumsi Psikologis  yang mendasari  studi dan praktek pendidikan.

 

B. DESKRIPSI MATERI

1. Pengertian Landasan Psikologis Pendidikan

     Landasan Psikologis pendidikan  adalah  asumsi-asumsi yang bersumber dari studi ilmiah dalam bidang psikologi  yang  menjadi sandaran, tumpuan  atau titik tolak  studi dan praktek pendidikan  Psikologi  merupakan ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungan. Psikologi pendidikan merupakan salah satu cabang ilmu pendidikan  yang dipengaruhi oleh perkembangan dan hasil-hasil penelitian psikologi, yang bertolak dari asumsi bahwa pendidikan ialah hal ihwal individu yang sedang belajar

 

2. Perkembangan individu dan implikasinya terhadap pendidikan

Dalam perjalanan hidupnya setiap individu mengalami perkembangan, yaitu  perubahan-perubahan yang teratur sejak dari pembuahan sampai mati. Perubahan pada indiividu dapat berbentuk  kematangan (maturation) dan  berbentuk belajar.  Kematanagn adalah perubahan  yang terjadi secara alami dan spontan tanpa dipengaruhi dari luar, sedangkan  belajar merupakan perubahan yang terjadi sebagai hasil dari  pengalaman atau latihan.  Sekurang-kurangnya ada tiga prinsip umum perkembangan individu, yaitu (1) perkembangan setiap  individu menunjukkan  perbedaan dalam kecepatan  dan irama; (2) perkembangan berlangsung relatif teratur, dan (3)  perkembangan berlangsung  berangsur secara bertahap. Setiap  tahap perkembangan  individu mempunyai tugas-tugas perkembangan (developmental task) yang harus diselesaikan oleh individu ( Robert Havigurst).

Berdasarkan perkembangan indiviidu,  tenaga kependidikan  memerlukan ilmu pendidikan  yang cocok dengan tingkat perkembangan usia.  Bagi anak-anak, pendidikan dikenal dengan istilah pedagogi yang berarti ilmu dan seni mengajar (membelajarkan) anak-anak (pedagogy is the science and arts of teaching children) (Knowles, 1977).  Bagi orang dewasa, pendidikan dikenal dengan istilah andragogi yaitu ilmu dan seni membantu orang dewasa belajar (andragogy is the science and arts of helping adults learn) (Cross, 1982).  Bagi lanjut usia, pendidikan dikenal dengan gerogogi yaitu ilmu dan seni untuk membantu manusia lanjut usia belajar (gerogogy is the science and arts of helping aging learn). 

Masing-masing ilmu pendidikan tersebut  dalam prakteknya memiliki  asumsi  dan karekateristik yang berbeda sesuai dengan tingkat perkembangan individu  yang menjadi peserta didiknya.

 

3. Teori belajar dan implikasinya terhadap pendidikan 

 

Salah  satu bentuk proses pendidikan adalah  interaksi belajar mengajar. Pola belajar mengajar antara lain dipengaruhi oleh  penampilan guru dalam mengajar, dan penampilan guru dalam mengajar  antara lain dipengaruhi  oleh pengetahuan guru tentang  mengajar yang  tidak lain adalah  teori belajar yang digunakan  guru .  Teori belajar telah banyak dikembangkan orang, namun dalam rangka pengenalan  teori belajar yang menjadi acuan pokok dapat  dikemukakan tiga kelompok  besar teori belajar yaitu  teori belajar kognivisme, teori belajar  behaviorisme dan teori belajar humanisme. Ketiga  teori belajar tersebut masing-masing memiliki  karakteristik  dan implikasi yang berbeda dalam prosespendidikan.

Read Full Post »

A. TUJUAN

Setelah mengikuti perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu memahami dan mengaplikasikan asumsi-asumsi filosofis  Pendidikan Nasional Indonesia.

 

B. DESKRISI MATERI

Landasan filosofis pendidikan nasional adalah Pancasila sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Metafisika: Segala sesuatu berasal dari Tuhan YME  sebagai pencipta.  Hakekat hidup bangsa Indonesia  adalah berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa  dan  perjuangan yang didorong oleh keinginan luhur untuk mencapai dan mengisi kemerdekaan. Selanjutnya yang menjadi keinginan luhur yaitu: a. negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur; b. melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia; c. memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa; d. ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

 

Manusia: Manusia adalah ciptaan Tuhan YME. Manusia bersifat mono-dualisme, dan mono-pluralisme. Manusia yang dicita-citakan adalah manusia seutuhnya. yaitu manusia yang mencapai keselarasan dan keserasian dalam kehidupan spiritual dan keduniawian, individu dan sosial, fisik dan kejiwaan.

 

Pengetahuan: Pengetahuan diperoleh melalui pengalaman, pemikiran dan penghayatan.

 

Nilai: Perbuatan manusia diatur oleh nilai-nilai yang bersumber dari Tuhan, kepentingan umum dan hati nurani.

 

Tujuan Pendidikan: Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

 

Kurikulum/isi Pendidikan:  kurikulum berisi pendidikan umum, pendidikan akademik, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik, dan pendidikan profesional.

Metode: Mengutamakan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)  dan penghayatan. Berbagai metode dapat dipilih dan dipergunakan dalam rangka mencapai tujuan.

 

Peranan Pendidik dan Peserta didik: Peranan pendidik dan peserta didik pada dasarnya berpegang pada prinsip: ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.

Read Full Post »

A. TUJUAN

Setelah mengikuti perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu memahami dan mengkritisi asumsi-asumsi filsafat pendidikan Pragmatisme.

 

B. DESKRISI MATERI

Metafisika: Pragmatisme anti metafisika. Suatu teori umum tentang kenyataan tidaklah mungkin dan tidak perlu. Kenyataan yang sebenarnya adalah kenyataan fisik, plural dan berubah (becoming).

 

Manusia: manusia adalah hasil evolusi biologis, psikologis dan sosial.  setiap orang lahir tidak dewasa, tak berdaya, tanpa dibekali dengan bahasa, keyakinan-keyakinan, gagasan-gagasan atau norma-norma sosial.

 

Pengetahuan: Pengetahuan yang benar diperoleh melalui pengalaman dan berpikir (scientific method).  Pengetahuan adalah relatif. Pengetahuan yang benar adalah yang berguna dalam kehidupan (instrumentalisme).

 

Nilai: Ukuran tingkah laku individual dan sosial ditentukan secara eksperimental dalam pengalaman hidup. Jika hasilnya berguna tingkah laku tersebut adalah baik (eksperimentalisme), karena itu nilai bersifat relatif dan kondisional.

 

Tujuan Pendidikan: Pendidikan adalah pertumbuhan sepanjang hayat, proses rekonstruksi yang berlangsung terus menerus dari pengalaman yang terakumulasi dan sebuah proses sosial. Tujuan pendidikan tidak ditentukan dari luar dan tidak ada tujuan akhir pendidikan.  Tujuan pendidikan adalah memperoleh pengalaman yang berguna untuk mampu memecahkan masalah-masalah baru dalam kehidupan individual maupun sosial.

 

Kurikulum/Isi Pendidikan: Kurikulum berisi pengalaman-pengalaman yang telah teruji, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, tidak memisahkan pendidikan liberal dan pendidikan praktis. Kurikulum mungkin berubah, warisan-warisan sosial dari masa lalu tidak menjadi fokus perhatian. Pendidikan terfokus pada kehidupan yang baik pada saat ini dan masa datang bagi individu, dan secara bersamaan masyarakat dikembangkan. Kurikulum bersifat demokratis.

 

Metode: Mengutamakan metode pemecahan masalah, penyelidikan, dan penemuan.

 

Peranan Pendidik dan Peserta didik:  Peranan pendidik adalah memimpin dan membimbing peserta didi belajar tanpa ikut campur terlalu atas minat dan kebutuhan siswa. Sedangkan peserta didik berperan sebagai organisme yang rumit yang mampu tumbuh.

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.