Feeds:
Tulisan
Komentar

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Landasan Pedagogik’

A. TUJUAN

Setelah mengikuti perkuliahan, mahasiswa diharapkan dapat memahami pendidikan menurut tinjauan Pedagogik (berdasarkan pedekatan fenomenologis).

B. DESKRIPSI MATERI

Berdasarkan sudut pandang pedagogik, sebagaimana dikemukakan M.J. Langeveld (1980) dapat disimpulkan bahwa pendidikan atau mendidik adalah suatu upaya orang dewasa yang dilakukan secara sengaja untuk membantu anak atau orang yang belum dewasa agar mencapai kedewasaan.

Pendidikan berlangsung dalam pergaulan antara orang dewasa  dengan anak  atau orang yang belum dewasa  dalam suatu lingkungan. Karena pendidikan itu diupayakan secara sengaja, maka dalam hal ini pendidik tentunya telah memiliki tujuan pendidikan. Untuk mencapai tujuan tersebut pendidik memilih isi pendidikan tertentu dan menggunakan alat pendidikan tertentu pula. Dari uraian di atas, dapat diidentifikasi adanya enam unsur yang terlibat dalam  pendidikan atau pergaulan pendidikan, yaitu: (1) tujuan pendidikan, (2) pendidik, (3) anak didik,  (4) isi pendidikan, (5) alat pendidikan, (6) lingkungan pendidikan.

Pendidikan berlangsung dalam pergaulan antara orang dewasa dengan anak atau orang yang belum dewasa, namun belum tentu setiap pergaulan demikian tergolong pendidikan. Agar pergaulan tersebut tergolong pendidikan, ada dua sifat yang harus dipenuhi, yaitu (1) adanya pengaruh dari orang dewasa yang dilakukan secara sengaja terhadap anak didik atau orang yang belum dewasa; dan

(2) pengaruh itu bertujuan agar anak atau oarng yang belum dewasa mencapai kedewasaan.

Ada dua sifat yang harus diperhatikan dalam  pergaulan pendidikan, yaitu :

(1) wajar, dan (2) tegas.

Pengubahan situasi pergaulan biasa menjadi pergaulan pendidikan hendaknya bersifat wajar agar peserta didik relatif tidak merasakan perubahan tersebut. Dengan demikian, pengaruh pendidik akan diterima peserta didiksecara wajar pula. Jika tidak demikian ada kemungkinan peserta didik akanmenghindar atau menutup diri. Di pihak lain, dalam pergaulan pendidikan harus tegas (jelas) tentang apa yang baik dan tidak baik, benar atau salah, dsb. Pergaulan pendidikan harus didasarkan atas kewibawaan, yaitu suatu kekuatan atau kelebihan pendidik yang diakui dan diterima oleh anak didik sehingga ia atas dasar kebebasannya menuruti pengaruh pendidik. Faktor penentu kewibawaan pendidik adalah: (1) kasih sayang pendidik terhadap anak didik atau orang yang belum dewasa, (2) kepercayaan pendidik bahwa anak didiknya/ orang yang belum dewasa akan mampu mencapai kedewasaan, (3) kedewasaan pendidik, (4) Identifikasi terhadap anak didik, dan (5) tanggung jawab pendidikan. Di pihak lain factor penentu kepenurutan anak didik terhadap pendidik adalah: (1) kemampuan anak/orang yang belum dewasa dalam memahami bahasa, (2) kepercayaan anak didik/orang yang belum dewasa kepada pendidik, (3) identifikasi, (4) imitasi, (5) simpati dan kebebasan anak didik dalam menentukan sikap, tindakan dan masa depannya.

-          Kewibawaan adalah syarat mutlak (conditio sine qua non) bagi pendidikan. Alasannya, jika pergaulan pendidikan tidak didasarkan atas kewibawaan, maka:

-          Pengaruh pendidik akan dituruti oleh anak didik/orang yang belum dewasa hanya atas dasar “pengaruh keterikatannya kepada pendidiknya”. Karena itu anak didik/orang yang belum dewasa  tidak akan pernah mencapai kedewasaan, ia akan tetap tak terdidik.

-          Kepenurutan anak didik/orang yang belum dewasa kepada pendidik akan terjadi berkat pemahaman anak atas pengalamannya sendiri, jika demikian halnya berarti ia sudah mandiri (dewasa), dan ini bertentangan dengan keadaan yang sesungguhnya sebagai orang yang belum dewasa yang sesungguhnya.

Berdasarkan uraian di atas,  dapat dipahami bahwa:

-          Pendidikan dimulai (batas bawah pendidikan) sejak anak/orang dewasa mengenal kewibawaan, adapun anak mampu mengenal kewibawaan adalah ketika ia mampu memahami bahasa. Sedangkan batas atas atau akhir pendidikan adalah saat tercapainya tujuan pendidikan, yaitu kedewasaan.

-          Tanggung jawab pada awalnya berada pada pendidik, tetapi seiring perkembangan kedewasaan anak didik/orang yang belum dewasa, tanggung jawab itu dialihkan atau diambil alih oleh anak didik/orang yang belum dewasa hingga ia bertanggung jawab (dewasa).

-          Bahwa kewibawaan itu bersifat bipolaritet.

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.