Feeds:
Pos
Komentar

Uraian Tugas Kepala Sekolah

Kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah harus dijabat oleh guru yang memiliki jiwa pemimpin. Siapa pun yang akan diangkat menjadi kepala sekolah harus ditentukan melalui prosedur serta persyaratan tertentu seperti latar belakang pendidikan, pengalaman, usia, pangkat dan integritas. Oleh sebab itu, kepala sekolah pada hakikatnya adalah pejabat formal sebab pengangkatannya melalui suatu proses dan prosedur yang didasarkan atas peraturan yang berlaku.

Secara sistem, jabatan kepala sekolah sebagai pejabat atau pemimpin formal dapat diuraikan melalui berbagai pendekatan yakni pengangkatan, pembinaan, tanggung jawab. Sebagai pejabat formal, pengangkatan seseorang menjadi kepala sekolah harus didasarkan atas prosedur dan peraturan yang berlaku. Prosedur dan peraturan tersebut dirancang dan ditentukan oleh suatu unit yang bertanggung jawab dalam bidang sumber daya manusia yaitu Depdiknas. Dalam hal ini, Kepala Sekolah mendapat tanggungjawab kepemimpinan dengan fungsi EMASLIM sebagai pengelola dan penyelenggaraan organisasi di sekolah

  1. Kepala Sekolah Sebagai Edukator

Fungsi sebagai edukator, Kepala Sekolah memiliki strategi yang tepat dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolahnya. Fungsi kepala sekolah sebagai edukator adalah menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberikan pembinaan kepada warga sekolah, memberikan dorongan kepada tenaga kependidikan serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik, seperti team teaching, moving class dan mengadakan program akselerasi bagi peserta didik yang cerdas di atas normal. Menurut Wahyusumidjo (2001:12) memahami arti pendidik tidak cukup berpegang pada konotasi yang terkandung dalam definisi pendidik melainkan harus dipelajari keterkaitannya dengan makna pendidikan, sarana pendidikan dan bagaimana strategi pendidikan itu dilaksanakan. Untuk kepentingan tersebut kepala sekolah harus berusaha menanamkan, memajukan dan meningkatkan sedikitnya empat macam nilai, yakni pembinaan mental, moral, fisik, dan artistik.

Sebagai edukator, Kepala Sekolah perlu selalu berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh para guru. Dalam hal ini pengalaman akan sangat mendukung terbentuknya pemahaman tenaga kependidikan terhadap pelaksanaan tugasnya. Pengalaman semasa menjadi guru, wakil kepala sekolah atau anggota organisasi kemasyarakatan sangat mempengaruhi kemampuan kepala sekolah dalam melaksanakan pekerjaaannya, demikian pula halnya pelatihan dan penataran yang pernah diikuti. Upaya yang dapat dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerjanya sebagai edukator, khususnya dalam peningkatkan kinerja tenaga kependidikan dan prestasi belajar anak didik dapat dideskripsikan sebagai berikut:

  1. Kepala Sekolah Sebagai Manajer

Manajemen pada hakekatnya merupakan suatu proses merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin dan mengendalikan usaha anggota organisasi serta mendayagunakan seluruh sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan (Wahyusumidjo, 2001:12). Dikatakan suatu proses, karena semua manajer dengan ketangkasan dan keterampilan yang dimiliki mengusahakan dan mendayagunakan berbagai kegiatan yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan. Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai manajer, kepala sekolah perlu memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melalui persaingan yang membuahkan kerja sama (cooperation), memberikan kesempatan kepada tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya, dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan yang menunjang program sekolah.

Sebagai manajer, kepala sekolah mau dan mampu mendayagunakan sumber daya sekolah dalam rangka mewujudkan visi, misi, dan mencapai tujuannya. Kepala sekolah mampu menghadapi berbagai persoalan di sekolah, berpikir secara analitik, konseptual, harus senantiasa berusaha menjadi juru penengah dalam memecahkan berbagai masalah, dan mengambil keputusan yang memuaskan stakeholders sekolah. Memberikan peluang kepada tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya. Semua peranan tersebut dilakukan secara persuasif dan dari hati ke hati. Mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam setiap kegiatan di sekolah (partisipatif). Dalam hal ini kepala sekolah berpedoman pada asas tujuan, asas keunggulan, asas mufakat, asas kesatuan, asas persatuan, asas empirisme, asas keakraban, dan asas integritas. Sesuai kriteria penilaian kinerja kepala sekolah, maka kepala sekolah perlu memiliki kemampuan dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya dengan baik, yang diwujudkan dalam kemampuan menyusun program, organisasi personalia, memberdayakan tenaga kependidikan dan mendayagunakan sumber daya sekolah secara optimal.

  1. Kepala Sekolah Sebagai Administrator

Kepala sekolah sebagai administrator memiliki hubungan erat dengan berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan, dan pendokumenan seluruh program sekolah. Secara spesifik, kepala sekolah perlu memiliki kemampuan untuk mengelola kurikulum, mengelola administrasi kearsipan, dan administrasi keuangan. Kegiatan tersebut perlu dilakukan secara efektif dan efisien agar dapat menunjang produktivitas sekolah. Untuk itu, kepala sekolah harus mampu menjabarkan kemampuan di atas ke dalam tugas-tugas operasional. Dalam berbagai kegiatan administrasi, maka membuat perencanaan mutlak diperlukan. Perencanaan yang akan dibuat oleh kepala sekolah bergantung pada berbagai faktor, di antaranya banyaknya sumber daya manusia yang dimiliki, dana yang tersedia dan jangka waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan rencana tersebut. Perencanaan yang dilakukan antara lain menyusun program tahunan sekolah yang mencakup program pengajaran, kesiswaan, kepegawaian, keuangan dan perencanaan fasilitas yang diperlukan. Perencanaan ini dituangkan ke dalam rencana tahunan sekolah yang dijabarkan dalam program semester. Di samping itu, fungsi kepala sekolah selaku administrator juga mencakup kegiatan penataan struktur organisasi, koordinasi kegiatan sekolah dan mengatur kepegawaian di sekolah.

  1. Kepala Sekolah Sebagai Supervisor

Sebagai supervisor, Kepala Sekolah mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan. Menurut Sahertian (2004:19) bahwa supervisi merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu para guru dan supervisor mempelajari tugas sehari-hari di sekolah, agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua peserta didik dan sekolah, serta berupaya menjadikan sekolah sebagai komunitas belajar yang lebih efektif. Jika supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah, maka ia harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan. Pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di sekolah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalian juga merupakan tindakan preventif untuk mencegah agar tenaga kependidikan tidak melakukan penyimpangan dan lebih cermat melaksanakan pekerjaannya. Pengawasan dan pengendalian yang dilakukan kepala sekolah terhadap tenaga kependidikan khususnya guru, disebut supervisi klinis, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran efektif. Kepala sekolah sebagai supervisor perlu memperhatikan prinsip-prinsip: (1) hubungan konsultatif, kolegial dan bukan hirarkis; (2) dilaksanakan secara demokratis; (3) berpusat pada tenaga kependidikan; (4) dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga kependidikan; dan (5) merupakan bantuan profesional.

  1. Kepala Sekolah Sebagai Leader

Kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemauan dan kemampuan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah dan mendelegasikan tugas. Wahjosumijo (1999) mengemukakan bahwa kepala sekolah sebagai pemimpin harus memiliki karakter khusus yang mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan profesional, serta pengetahuan administrasi dan pengawasan. Kemampuan kepala sekolah sebagai pemimpin dapat dianalisis dari aspek kepribadian, pengetahuan terhadap tenaga kependidikan, visi dan misi sekolah, kemampuan mengambil keputusan dan kemampuan berkomunikasi. Sedangkan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin dalam sifatnya yang: (1) jujur, (2) percaya diri, (3) tanggung jawab, (4) berani mengambil risiko dan keputusan, (5) berjiwa besar, (6) emosi yang stabil, dan (7) teladan.

Dalam implementasinya, kepala sekolah sebagai pemimpin dapat dianalisis dari tiga gaya kepemimpinan, yakni demokratis, otoriter dan bebas. Ketiga gaya tersebut sering dimiliki secara bersamaan oleh seorang pemimpin sehingga dalam melaksanakan kepemimpinannya, gaya-gaya tersebut muncul secara situasional..

  1. Kepala Sekolah Sebagai Inovator

Peranan dan fungsinya sebagai inovator, Kepala Sekolah perlu memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada tenaga kependidikan dan mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif. Kepala sekolah sebagai inovator dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan akan tercermin dari caranya melakukan pekerjaan secara konstruktif, kreatif, delegatif, integratif, rasional, obyektif, pragmatis, keteladanan, disiplin, adaptable, dan fleksibel.

Kepala sekolah sebagai inovator harus mampu mencari, menemukan dan melaksanakan berbagai pembaruan di sekolah. Gagasan baru tersebut misalnya moving class. Moving class adalah mengubah strategi pembelajaran dari pola kelas tetap menjadi kelas bidang studi, sehingga setiap bidang studi memiliki kelas tersendiri, yang dilengkapi dengan alat peraga dan alat-alat lainnya.

  1. Kepala Sekolah Sebagai Motivator

Fungsi sebagai motivator, Kepala Sekolah memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar. Dorongan dan penghargaan merupakan dua sumber motivasi yang efektif diterapkan oleh kepala sekolah. Keberhasilan suatu organisasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor yang datang dari dalam maupun datang dari lingkungan. Dari berbagai faktor tersebut, motivasi merupakan suatu faktor yang cukup dominan dan dapat menggerakkan faktor-faktor lain ke arah keefektifan (effectiveness) kerja, bahkan motivasi sering disamakan dengan mesin dan kemudi mobil, yang berfungsi sebagai penggerak dan pengarah.

Berpikir adalah aktifitas mencurahkan daya pikir untuk maksud tertentu. Berpikir adalah identitas yang memisahkan status kemanusiaan manusia dengan lainnya. Karenanya sejauhmana manusia pantas disebut manusia dapat dibedakan dengan sejauhmana pula ia menggunakan pikirannya. Al-Insan huwa al-Hayawanun Nathiq.

Dalam dunia pendidikan berpikir merupakan bagian dari ranah kognitif, dimana dalam hirarki Bloom terdiri dari tingkatan-tingkatan. Bloom mengkalisifikan ranah kognitif ke dalam enam tingkatan: (1) pengetahuan (knowledge); (2) pemahaman (comprehension); (3) penerapan (application); (4) mengalisis (analysis); (5) mensintesakan (synthesis); dan (6) menilai (evaluation). Keenam tingkatan ini merupakan rangkaian tingkatan berpikir manusia. Berdasarkan tingkatan tersebut, maka dapat diketahui bahwa berpikir untuk mengetahui merupakan tingkatan berpikir yang paling bawah (lower) sedangkan tingkatan berpikir paling tertinggi (higher) adalah menilai.

Merujuk definisi dalam Wikipedia Indonesia, berpikir tingkat tinggi adalaha concept of Education reform based on learning taxonomies such as Bloom’s Taxonomy. The idea is that some types of learning require more cognitive processing than others, but also have more generalized benefits. In Bloom’s taxonomy, for example, skills involving analysis, evaluation and synthesis (creation of new knowledge) are thought to be of a higher order, requiring different learning and teaching methods, than the learning of facts and concepts. Higher order thinking involves the learning of complex judgmental skills such as critical thinking and problem solving. Higher order thinking is more difficult to learn or teach but also more valuable because such skills are more likely to be usable in novel situations (i.e., situations other than those in which the skill was learned). Dari definisi tersebut maka dapat diketahui bahwa berpikir tingkat tinggi membutuhkan berbagai langkah-langkah pembelajaran dan pengajaran yang berbeda dengan hanya sekedar mempelajari fakta dan konsep semata. Dalam berpikir tingkat tinggi meliputi aktivitas pembelajaran terhadap keterampilan dalam memutuskan hal-hal yang bersifat kompleks semisal berpikir kritis dan berpikir dalam memecahkan masalah. Meski memang berpikir tingkat tinggi sulit untuk dipelajari dan diajarkan, namun kegunaannya sudah tidak diragukan lagi.

Alice Thomas dan Glenda menyatakan bahwa berpikir tingkat tinggi adalah berpikir pada tingkat lebih tinggi daripada sekedar menghafalkan fakta atau mengatakan sesuatu kepada seseorang persis seperti sesuatu itu diceritakan kepada kita. Pada saat seseorang menghafalkan dan menyampaikan kembali informasi tersebut tanpa harus memikirkannya, disebut memori hafalan (rote memory). Orang tersebut tak berbeda dengan robot, bahkan ia melakukan apapun yang diprogram dilakukannya, sehingga ia juga tidak dapat berpikir untuk dirinya sendiri. Berpikir tingkat tinggi secara singkat dapat dikatakan sebagai pencapaian berpikir kepada pemikiran tingkat tinggi dari sekedar pengulangan fakta-fakta. Berpikir tingkat tinggi mengharuskan kita melakukan sesuatu atas fakta-fakta. Kita harus memahamnya, menghubungkan satu sama lainnya, mengkategorikan, memanipulasi, menempatkannya bersama-sama dengan cara-cara baru, dan menerapkannya dalam mencari solusi baru terhadap persoalan-persoalan baru.

Bagi sebagian orang berpikir tingkat tinggi dapat dilakukan dengan mudahnya, tetapi bagi oranglain belum tentu dapat dilakukan. Meski demikian bukan berarti berpikir tingkat tinggi tidak dapat dipelajari. Alison menyatakan bahwa seperti halnya keterampilan pada umumnya, berpikir tingkat tinggi dapat dipelajari oleh setiap orang. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa berpikir tingkat tinggi dalam praktiknya bahwa keterampilan berpikir tingkat tinggi baik pada anak-anak maupun orang dewasa dapat berkembang. Langkah paling awal yang dapat dilakukan adalah dengan mengenal dan mempelajari apa “berpikir tingkat tinggi itu?”

Berkenaan dengan berpikir tingkat tinggi, ada beberapa fakta singkat yang perlu ketahui sebagai berikut:

Tidak ada seorang di dunia ini yang mampu berpikir sempurna sama seperti halnya taka da seorangpun yang memiliki kekuatan berpikir yang buruk sepanjang waktunya. Keterampilan seseorang dalam menggunakan daya pikir sangat dipengaruhi oleh berbagai factor dan kondisi. Dengan demikian orang yang dipandang pandai dan pinter mungkin saja dapat berpikir lebih buruk daripada orang yang paling bodoh tetapi berada pada tempat yang cocok. Fakta ini juga menunjukkan bahwa di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar paling pinter dan tidak ada orang yang bodoh sama sekali.Menghafal sesuatu tidak sama dengan memikirkan sesuatu. Menghapalkan merupakan aktifitas dalam merekam sesuatu apa adanya, tak kurang dan tak lebih. Sedangkan memikirkan sesuatu berarti mempergunakan daya pikirnya dalam rangka mengetahui, memahami, membandingkan, menerapkan dan menilai sesuatu tersebut. Dalam menghapal aktivitas pikir bersifat lebih sederhana dibandingkan dengan memikirkan. Mengingat pacar tentu berbeda dengan memikirkan pacar!Kita dapat mengingat sesuatu dengan tanpa memahaminya. Salah satu kelebihan manusia adalah kemampuan manusia dalam merekam apapun yang didengar, dilihat dan dirasakannya apalagi pada saat proses perekaman tersebut terdapat kesan yang memperkuat, meski kadang apa yang kita dengar, kita lihat dan kita rasakan itu tidak pernah kita mengerti. Misalnya ketika anak TK diwajibkan menghapalkan satu persatu butir-butir Pancasila, mereka mampu menghapalnya dengan fasih meski kadang tidak tahu artinya. Seperti mimpi, kita merasakan apa yang terjadi dalam mimpi seolah-olah nyata meski kadang kita sendiri tiak pernah dapat memahaminya.Berpikir dilakukan dalam dua bentuk: kata dan gambar. Kata maupun gambar adalah simbol-simbol yang mendorong otak manusia untuk mengingat dan menyelami maknanya dalam kegiatan berpikir. Kata merupakan simbol dari apa yang kita dengar dan kita baca, sedangkan gambar merepresentasikan dari apa yang kita lihat dan kita bayangkan.Ada tiga jenis utama intelijen dan kemampuan berpikir: analitis, kreatif dan praktis. Berpikir analisis disebut juga berpikir kritis. Ciri khusus berpikir analisis adalah melibatkan proses berpikir logis dan penalaran termasuk keterampilan seperti perbandingan, klasifikasi, pengurutan, penyebab/efek, pola, anyaman, analogi, penalaran deduktif dan induktif, peramalan, perencanaan, hyphothesizing, dan critiquing. Berpikir kreatif adalah proses berpikir yang melibatkan menciptakan sesuatu yang baru atau asli. Ini melibatkan keterampilan fleksibilitas, orisinalitas, kefasihan, elaborasi, brainstorming, modifikasi, citra, pemikiran asosiatif, atribut daftar, berpikir metaforis, membuat hubungan. Tujuan dari berpikir kreatif adalah merangsang rasa ingin tahu dan menampakkan perbedaan. Inti dari berpikir praktis, sebagaimana dikemukakan Edward De Bono adalah bagaimana pikiran itu bekerja, bukan bagaimana seorang filosof berpikir bahwa sesuatu itu dapat bekerja.Ketiga kecerdasan dan cara berpikir (analitic, kreatif dan praktis) berguna dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kenyataannya kita terpaku terhadap salah satu cara berpikir saja. Dalam kondisi dan keadaan tertentu, kita lebih banyak menggunakan cara berpikir analitis ketimbang lainnya. Dalam kondisi lainnya berpikir kreatif lebih dituntur oleh kita, sedangkan dalam kondisi tertentu pula kita lebih memilih untuk berpikir secara praktis.Kita dapat meningkatkan kemampuan berpikir dengan cara memahami proses-proses yang melibatkan kegiatan berpikir. Dengan membiasakan diri dalam kegiatan-kegiatan yang membutuhkan aktivitas berpikir, otak kita akan terdidik dan terbiasa untuk berpikir. Dengan kebiasaan ini, maka akan menghasilkan peningkatan kemampuan kita dalam berpikir. Orang yang lebih cenderung menggunakan otot ketimbang otak, tentu peningkatan kemampuan berpikirnya akan lambat disbanding mereka yang kehidupan sehari-harinya selalu membutuhkan proses berpikir.Berpikir metakognisi merupakan bagian dari berpikir tingkat tinggi. Metakognisi didefinisikan “cognition about cognition” atau “knowing about knowing”. Dalam kata lain, meta cognition dapat diartikan “learning about learning” (belajar tentang belajar). Metakognisi dapat terdiri dari banyak bentuk, tetapi juga mencakup pengetahuan tentang kapan dan bagaimana menggunakan strategi-strategi khusus untuk belajar atau untuk pemecahan masalah. Selain metakognisi terdapat istilah lain yang hamper sama, yaitu metamemory yang didefinisikan sebagai “knowing about memory” dan “memoric strategy”, ia merupakan bentuk penting dari metakognisi.

Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Bruce Joyce dan Marsha Weil (dalam Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku.

Berdasarkan Permendikbud Nomor 65 Tahun tentang Standar Proses, model pembelajaran yang diutamakan dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah model pembelajaran Inkuiri (Inquiry Based Learning), model pembelajaran Discovery (Discovery Learning), model pembelajaran berbasis projek (Project Based Learning), dan model pembelajaran berbasis permasalahan (Problem Based Learning).

Untuk menentukan model pembelajaran yang akan dilaksanakan dapat mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

  • Kesesuaian model pembelajaran dengan kompetensi sikap pada KI-1 dan KI-2 serta kompetensi pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan KD-3 dan/atau KD-4.
  • Kesesuaian model pembelajaran dengan karakteristik KD-1 (jika ada) dan KD-2 yang dapat mengembangkan kompetensi sikap, dan kesesuaian materi pembelajaran dengan tuntutan KD-3 dan KD-4 untuk memgembangkan kompetensi pengetahuan dan keterampilan.
  • Penggunaan pendekatan saintifik yang mengembangkan pengalaman belajar peserta didik melalui kegiatan mengamati (observing), menanya (questioning), mencoba/mengumpulkan informasi (experimenting/ collecting information), mengasosiasi/menalar (assosiating), dan mengomunikasikan (communicating).

Berikut adalah contoh kegiatan dalam model pembelajaran dikaitkan dengan pendekatan saintifik (5M).

Model Inquiry Learning
Model pembelajaran Inkuiri biasanya lebih cocok digunakan pada pembelajaran matematika, tetapi mata pelajaran lainpun dapat menggunakan model tersebut asal sesuai dengan karakteristik KD atau materi pembelajarannya. Langkah-langkah dalam model inkuiri terdiri atas:

  1. Observasi/Mengamati berbagi fenomena alam. Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik bagaimana mengamati berbagai fakta atau fenomena dalam mata pelajaran tertentu.
  2. Mengajukan pertanyaan tentang fenomana yang dihadapi. Tahapan ini melatih peserta didik untuk mengeksplorasi fenomena melalui kegiatan menanya baik terhadap guru, teman, atau melalui sumber yang lain.
  3. Mengajukan dugaan atau kemungkinan jawaban. Pada tahapan ini peserta didik dapat mengasosiasi atau melakukan penalaran terhadap kemungkinan jawaban dari pertanyaan yang diajukan.
  4. Mengumpulkan data yang terakait dengan dugaan atau pertanyaan yang diajukan, sehingga pada kegiatan tersebut peserta didik dapat memprediksi dugaan atau yang paling tepat sebagai dasar untuk merumuskan suatu kesimpulan.
  5. Merumuskan kesimpulan-kesimpulan berdasarkan data yang telah diolah atau dianalisis, sehingga peserta didik dapat mempresentasikan atau menyajikan hasil temuannya.

Model Discovery Learning.

  1. Stimulation (memberi stimulus). Pada kegiatan ini guru memberikan stimulan, dapat berupa bacaan, atau gambar, atau situasi, sesuai dengan materi pembelajaran/topik/tema yang akan dibahas, sehingga peserta didik mendapat pengalaman belajar mengamati pengetahuan konseptual melalui kegiatan membaca, mengamati situasi atau melihat gambar.
  2. Problem Statement (mengidentifikasi masalah). Dari tahapan tersebut, peserta didik diharuskan menemukan permasalahan apa saja yang dihadapi, sehingga pada kegiatan ini peserta didik diberikan pengalaman untuk menanya, mencari informasi, dan merumuskan masalah.
  3. Data Collecting (mengumpulkan data). Pada tahapan ini peserta didik diberikan pengalaman mencari dan mengumpulkan data/informasi yang dapat digunakan untuk menemukan solusi pemecahan masalah yang dihadapi. Kegiatan ini juga akan melatih ketelitian, akurasi, dan kejujuran, serta membiasakan peserta didik untuk mencari atau merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah, jika satu alternatif mengalami kegagalan.
  4. Data Processing (mengolah data). Kegiatan mengolah data akan melatih peserta didik untuk mencoba dan mengeksplorasi kemampuan pengetahuan konseptualnya untuk diaplikasikan pada kehidupan nyata, sehingga kegiatan ini juga akan melatih keterampilan berfikir logis dan aplikatif.
  5. Verification (memferifikasi). Tahapan ini mengarahkan peserta didik untuk mengecek kebenaran atau keabsahan hasil pengolahan data, melalui berbagai kegiatan, antara lain bertanya kepada teman, berdiskkusi, atau mencari sumber yang relevan baik dari buku atau media, serta mengasosiasikannya sehingga menjadi suatu kesimpulan.
  6. Generalization (menyimpulkan). Pada kegiatan ini peserta didik digiring untuk menggeneralisasikan hasil simpulannya pada suatu kejadian atau permasalahan yang serupa, sehingga kegiatan ini juga dapat melatih pengetahuan metakognisi peserta didik.

Problem Based Learning
Model pembelajaran ini bertujuan merangsang peserta didik untuk belajar melalui berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan pengetahuan yang telah atau akan dipelajarinya melalui langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:

  1. Mengorientasi peserta didik pada masalah. Tahap ini untuk memfokuskan peserta didik mengamati masalah yang menjadi objek pembelajaran.
  2. Mengorganisasikan kegiatan pembelajaran. Pengorganisasian pembelajaran salah satu kegiatan agar peserta didik menyampaikan berbagai pertanyaan (atau menanya) terhadap malasalah kajian.
  3. Membimbing penyelidikan mandiri dan kelompok. Pada tahap ini peserta didik melakukan percobaan (mencoba) untuk memperoleh data dalam rangka menjawab atau menyelesaikan masalah yang dikaji.
  4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Peserta didik mengasosiasi data yang ditemukan dari percobaan dengan berbagai data lain dari berbagai sumber.
  5. Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah. Setelah peserta didik mendapat jawaban terhadap masalah yang ada, selanjutnya dianalisis dan dievaluasi.

Project Based Learning
Model pembelajaran ini bertujuan untuk pembelajaran yang memfokuskan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahami pembelajaran melalui investigasi, membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum, memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif.

Langkah pembelajaran dalam project based learning adalah sebagai berikut:

  1. Menyiapkan pertanyaan atau penugasan proyek. Tahap ini sebagai langkah awal agar peserta didik mengamati lebih dalam terhadap pertanyaan yang muncul dari fenomena yang ada.
  2. Mendesain perencanaan proyek. Sebagai langkah nyata menjawab pertanyaan yang ada disusunlah suatu perencanaan proyek bisa melalui percobaan.
  3. Menyusun jadwal sebgai langkah nyata dari sebuah proyek. Penjadwalan sangat penting agar proyek yang dikerjakan sesuai dengan waktu yang tersedia dan sesuai dengan target.
  4. Memonitor kegiatan dan perkembangan proyek. Guru melakukan monitoring terhadap pelaksanaan dan perkembangan proyek. Peserta didik mengevaluasi proyek yang sedang dikerjakan.
  5. Menguji hasil. Fakta dan data percobaan atau penelitian dihubungkan dengan berbagai data lain dari berbagai sumber.
  6. Mengevaluasi kegiatan/pengalaman. Tahap ini dilakukan untuk mengevaluasi kegiatan sebagai acuan perbaikan untuk tugas proyek pada mata pelajaran yang sama atau mata pelajaran lain.

✏ Masih ingatkah kisah tentang seorang sahabat yang dikabarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam masuk surga karena setiap malam sebelum tidur dia selalu memaafkan kesalahan orang-orang yang berbuat salah kepadanya ?

✏ Masih ingat kisahnya Bilal bin Rabbah,dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari,
“Rasulullah berkata kepada Bilal, “Ceritakanlah kepadaku amal apa yang amat engkau harapkan dalam Islam, sebab aku mendengar suara kedua sandalmu di surga?”

Bilal menjawab; “Tidak ada amal ibadah yang paling kuharapkan selain setiap aku berwudhu baik siang atau malam aku selalu shalat setelahnya sebanyak yang aku suka”

✏ Masih ingat kisah seorang Wanita yang sudah bertahun-tahun dikubur namun jasad dan wajahnya tampak seperti baru dikuburkan.
Bahkan dengan senyuman yang sangat berseri di wajahnya. Ketika ditanyakan kepada ibunya,apa yang telah dilakukannya selama hidup di dunia, sehingga mendapatkan kemulian tersebut? Ternyata amal istimewa yang selalu dilakukan selama hidupnya adalah tilawah Qur’an setiap habis shalat meskipun hanya sebentar (mendawamkan membaca Al Qur’an).

✏ Ada juga cerita seorang akhwat (wanita) yang terkena bencana Tsunami di Aceh saat sedang mengisi dauroh di sebuah kampus ternama di Aceh. Jasadnya tidak rusak, bahkan pakaiannya masih utuh tanpa ada yang robek, padahal kebanyakan orang yang meninggal di lokasi yang sama dengannya mengalami luka-luka yang mengerikan. Wanita ini adalah seseorang yang senantiasa menjaga auratnya semenjak berusia baligh sampai dia meninggal dunia.

✏ Masih dari Aceh,saat proses pencarian korban tsunami, relawan-relawan yang setiap hari tugasnya berhadapan dengan mayat-mayat yang setengah membusuk, hancur dan bau dikarenakan lama terendam di air dan tertimpa reruntuhan bangunan, suatu hari mencium bau yang sangat wangi.
Mereka penasaran darimana sumber bau wangi itu diantara bau busuk dari mayat-mayat yang lain.

Bau wangi ini terasa sangat istimewa,seakan-akan jadi penghibur bagi mereka yang selama ini selalu bertemankan dengan bau-bau yang menusuk hidung.

Setelah lama berusaha mencarinya, mereka akhirnya menemukan sumber bau yang istimewa itu, yang ternyata dari berasal dari salah seorang korban tsunami.

Tapi mayat satu ini amat istimewa, selain mengeluarkan bau yang wangi, jasadnya tidak rusak sedikitpun, bahkan wajahnya dihiasi dengan senyuman kebahagiaan.

Karena istimewanya mayat ini, para relawan memutuskan untuk tidak menguburkan jenazahnya di kuburan massal seperti mayat-mayat yang lain.

Mereka berusaha mencari identitas korban dengan mengumumkan penemuan jenazah tersebut kepada masyarakat.

Ternyata ada anggota keluarga yang mengenali jenazah tersebut dan membawa pulang jenazahnya untuk dikuburkan secara layak, namun sebelum anggota keluarga membawa pulang jenazah tersebut,relawan-relawan yang penasaran bertanya ,apa yang telah dilakukan oleh jenazah tersebut selama hidup didunia sehingga beroleh keistimewaan tersebut ”?.

Anggota keluarganya menjelaskan, bahwa jenazah tersebut adalah seorang hafidzah (penghafal Al Qur’an) yang istiqamah menjaga hafalannya, memuraja’ah (mengulang hafalannya) setiap hari.

✏ Belajar dari beberapa cerita diatas, hendaknya kita juga memiliki amalan istimewa yang konsisiten kita lakukan setiap harinya seperti menjaga wudhu dan rajin membaca al-qur’an.

✏ Lihatlah Kemuliaan mereka terlihat dari konsistennya mereka menjaga amalnya, meskipun terkesan sederhana, tapi tidak banyak orang yang KONSISTEN dan mampu melaksanakannya.

✏ Merekalah orang-orang pilihan yang memiliki keunikan dan keunggulan dibandingkan yang lain.

✏ Sesungguhnya surga itu memiliki banyak pintu, dan setiap orang akan memasuki pintu-pintu tersebut sesuai amal terbaiknya atau amal unggulannya selama hidup, meskipun kita juga memiliki kesempatan memasuki surga melalui semua pintu seperti Abu Bakar RA, tapi yang paling penting adalah kita harus mempersiapkan amal terbaik kita dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, untuk selanjutnya kita serahkan kepada Allah, sembari kita memohon kepada Allah agar memasukkan kita ke barisan orang-orang yang mendapatkan kemuliaan Jannah-Nya.

Pada Tahun 2013 lalu, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan Kurikulum 2013 sebagai standar acuan, dalam menyelenggarakan pendidikan di sekolah-sekolah. Tentu diberlakukannya Kurikulum 2013 akan mengganti kurikulum yang lama, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang sudah diberlakukan di Indonesia mulai dari Tahun 2006-2012. Akibat dari diberlakukannya Kurikulum 2013 sebagai acuan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, maka timbul banyak polemik yang menentang diberlakukannya Kurikulum 2013, terutama dari Guru TIK karena pada Kurikulum 2013 karena pelajaran TIK ditiadakan tetapi TIK menjadi media semua mata pelajaran. Tentunya, ini menjadi pertanyaan kenapa pelajaran TIK ditiadakan, apa pelajaran ini tidak penting diajarkan di sekolah-sekolah? Apakah semua guru di Indonesia ini bisa memanfaatkan media TIK, sebagai media penunjang proses mengajarnya di sekolah? Dan menurut sumber yang saya dapat, Kurikulum 2013 dibuat tidak melalui riset dan evaluasi yang mendalam, sehingga implementasinya di sekolah nanti belum tentu optimal dimanfaatkan oleh guru dan siswa.

Akan tetapi semua hal tersebut berubah ketika Menteri Pendidikan yang sekarang, yaitu Bapak Anis Baswedan, membuat sebuah pengumuman untuk menghentikan penerapan Kurikulum 2013 pada sekolah yang baru menerapkan satu semester. Tentu, ini pertanda baik bagi guru-guru di Indonesia, dengan adanya penundaan pemberlakuan Kurikulum 2013 ini. Bagaimana  tidak? Implementasi kurikulum  2013  terkesan  mendadak  yang  membuat  berbagai  pihak,  khususnya guru sebagai  pendidik, mendapat pemberitahuan mengenai implementasi kurikulum   2013.  Apakah  semua guru memiliki  kapasitas  yang  cukup  untuk  mampu meningkatkan  kualitas  pendidikan?  Inilah  yang  menjadi  masalah  besar dalam dunia pendidikan. Di samping itu, ada beberapa substansi/isi dari Kurikulum 2013 yang menurut saya tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia. Beberapa substansi/isi Kurikulum 2013 yang perlu diadakan pembenahan adalah sebagai berikut.

Pertama, dari sisi substansi teori taksonomi ternyata kurang pas. Yaitu pada ranah keterampilan, menurut standar proses dan standar penilaian yang baru (2013) serta permendikbud no. 103 tahun 2014 tentang proses pembelajaran, keterampilan hanya mencantumkan keterampilan berpikir atau keterampilan abstrak yang mengacu pada buku Dyers. Padahal untuk keterampilan harusnya juga melingkupi keterampilan konkrit. Hal ini baru terakomodasi di permendikbud no. 104 tentang penilaian hasil belajar pendidikan dasar dan menengah, di mana dicantumkan dua jenis keterampilan ini, yaitu keterampilan abstrak dan konkrit. Dengan demikian permendikbud tentang standar proses, standar penilaian dan permendikbud no. 103 tentang pembelajaran perlu direvisi.

Kedua, langkah-langkah pendekatan saintifik, lagi-lagi mengacu pada buku Dyers tentang keterampilan abstrak. Jadi di sini ada dua hal berbeda, tetapi tahapannya sama, yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan.

Ketiga, jumlah mata pelajaran dari 12 menjadi 10. Dalam hal ini, mata pelajaran TIK (teknologi informasi dan komunikasi), muatan lokal, dan pengembangan diri diintegrasikan ke dalam mata pelajaran dan kegiatan lain. Sehingga, mata pelajaran di atas tidak ditemukan di struktur Kurikulum 2013. Ada mata pelajaran baru yang ditambahkan di Kurikulum 2013, yaitu mata pelajaran prakarya. Tentunya, hal ini seakan-akan menganggap bahwa Pelajaran TIK tidak penting, padahal menurut saya, mata pelajaran TIK seharusnya tidak diintegrasikan ke dalam mata pelajaran lain, karena pelajaran TIK mengajarkan kepada siswa tentang arti penting teknologi dan bagaimana memanfaatkan teknologi dengan baik, jika mata pelajaran ini dihapus mungkin akan banyak lagi siswa di Indonesia yang gaptek dengan teknologi. Kalau TIK hanya dijadikan media pembelajaran, pasti implementasinya cuma untuk presentasi dengan power point di kelas, tidak mempelajari bagian-bagian pembuatan teknologi seperti laptop, dan lain-lain.

Keempat, TIK menjadi media semua mata pelajaran. Hal ini menjelaskan bahwa mata pelajaran TIK sudah dilenyapkan, seperti kekhawatiran beberapa pihak. Mungkin masalah yang bisa muncul di sini adalah faktor rendahnya kemampuan guru dalam menggunakan ICT dalam media pembelajaran di kelas. Hal ini tentu bagi saya sangat merugikan siswa karena belum tentu semua guru bisa memanfaatkan ICT yang baik saat pembelajaran di kelas. Ketidaksiapan guru terkesan mendadak dan tidak memperhatikan konteks sosiologis Keindonesian. Penyiapan guru membutuhkan waktu yang lama, tidak hanya pelatihan sekali atau dua kali , bahkan harus berkali-kali untuk mempersiapkan para pengajar yang akan terjun menjadi pendidik di sekolah-sekolah.

Kelima, mata pelajaran muatan lokal, bisa masuk ke dalam mata pelajaran penjasorkes, seni budaya, atau prakarya. Hal ini yang paling membuat aneh, karena kekayaan bangsa Indonesia adalah bahasa, suku, dan agama. Jika bahasa daerah tidak dimasukkan dalam mata pelajaran sekolah, otomatis secara tidak langsung pemerintah telah membunuh karakter berbicara rakyat Indonesia. Fungsi bahasa daerah menurut saya adalah agar siswa bisa mengerti tata cara berbahasa yang sopan menurut adat di daerahnya. Contoh bahasa Jawa itu sangat menjunjung tinggi tata berbicara yang baik dengan sesama teman, guru, dan orangtua, saya juga sangat yakin bahwa setiap bahasa daerah yang dimiliki setiap suku di Indonesia pasti mengajarkan tata berbicara yang baik dan sopan. Jika bahasa daerah dihapus, apa pemerintah berani bertanggung jawab dengan semakin maraknya anak yang tidak sopan kepada orangtua, guru, apalagi temannya? Dan pada akhirnya juga, moral anak bangsa yang buruklah yang akan menghancurkan bangsa Indonesia ke depannya, jika bahasa daerah dihapus dalam mata pelajaran di sekolah

Keenam, IPA dan IPS masing-masing tetap diajarkan secara terpadu. IPA dan IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science dan integrative social studies, bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. Tentu saja kurang pas, jika pelajaran IPA dan IPS diajarkan secara terpadu. Otomatis, para siswa akan merasa terbebani dengan pelajaran biologi yang disatukan dengan fisika dan kimia atau sejarah disatukan dengan georafi dan PPKn. Para siswa pasti akan merasa berat jika mempelajari IPA dan IPS secara keseluruhan, karena mungkin siswa bakat dalam biologi tapi tidak bakat dalam kimia. Tentu, dampak ini akan menyebabkan siswa tersebut ketika pelajaran kimia akan bosan dan membuat nilai IPA-nya menurun karena buruknya nilai ulangan kimianya.

Ketujuh, jumlah jam bertambah 6 jam per minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran. Jumlah jam pelajaran per minggu yang mulanya 32 jam/minggu menjadi 38 jam/minggu dengan rincian pendidikan agama menjadi 3 jam, PPKn menjadi 3 jam, bahasa Indonesia menjadi 5 jam, matematika menjadi 5 jam, seni budaya menjadi 3 jam, dan penjasorkes menjadi 3 jam. Tentu, hal ini akan semakin memberatkan siswa. Karena, setiap siswa mempunyai batas maksimal waktu konsentrasi dalam belajar.

Kedelapan, ekstrakurikuler terdiri atas pramuka (wajib), OSIS, UKS, PMR, dan lain-lain. Tentu, saya sangat tidak setuju jika pramuka saja yang diwajibkan untuk diikuti oleh siswa, karena bakat setiap siswa pasti berbeda satu sama lain, dan belum tentu semua siswa senang terhadap ekstrakurikuler pramuka. Menurut saya, bukan hanya ekstrakurikuler pramuka yang mengajarkan tentang kepribadian diri yang baik, kemampuan memimpin yang baik atau kepintaran dalam bermusyawarah. Dalam ekstrakurikuler yang lain juga, ada yang mengajarkan skill yang baik, contoh ekstrakurikuler PMR yang mengajarkan jiwa sosial dan tolong menolong, atau ekstrakurikuler paskibra yang mengajarkan tentang tata cara berbaris dan kepemimpinan yang baik. Jadi seharusnya, setiap siswa diberi hak untuk memilih ekstrakurikuler yang disukai dan digemarinya, agar bakat siswa bisa tertuang dalam berbagai bidang.

Kesembilan, dalam Kurikulum 2013, guru tidak lagi diwajibkan untuk membuat sillabus/bahan ajar , tentu ini berbeda dengan Kurikulum KTSP yang sebelumnya diterapkan. Hal ini akan menumpulkan kreativitas guru dan seolah-olah guru hanya seperti robot, karena semua sudah disiapkan pemerintah. Seharusnya yang menyusun silabus adalah guru, karena gurulah yang sangat mengetahui tentang kapasitas dan kuantitas belajar muridnya. Jika yang menyusun silabus adalah pemerintah, pasti ada salah satu kompetensi dasar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan pembelajaran di sekolah, mengingat setiap daerah di Indonesia sumber daya manusianya berbeda-beda dalam hal pemikiran dalam belajar. Apakah daerah terpencil di perbatasan Indonesia akan bisa menerima pembelajaran yang sama dengan daerah perkotaan? Bukankah di daerah terpencil di perbatasan Indonesia akses teknologi informasi seperti internet masih belum menyeluruh di semua tempat? Tentu, hal ini akan menimbulkan permasalahan yang baru, yaitu kesulitan akses internet akan menghalangi siswa di daerah perbatasan dan terpencil untuk belajar. Guru akan terpaku pada pada isi buka panduan silabus yang telah ditentukan oleh pemerintah.

Kesepuluh, untuk pelajaran prakarya, ini nama baru yang tidak ada perguruan tinggi yang menyiapkan bidang ini, alhasil guru yang dipaksa ngajar prakarya terancam tidak diakui jam tatap mukanya, yang berakibat tidak diakui angka kreditnya dan bahkan tidak dibayarkan tunjangan profesinya.

Kesimpulannya dalam artikel ini adalah ada beberapa substansi/isi Kurikulum 2013 yang harus dibenahi dan direvisi oleh pemerintah, agar implementasi isi kurikulum ini di sekolah nanti tidak menimbulkan masalah yang besar bagi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Meskipun Kurikulum 2013 telah ditunda, dari sepuluh substansi yang dipaparkan di atas, diharapkan agar pemerintah mau membenahi isi Kurikulum 2013 yang menimbulkan kontroversi dari banyak pihak di atas dengan substansi isi Kurikulum 2013, yang tidak menghilangkan kekayaaan bangsa dan Indonesia dan mampu diterapkan dengan baik oleh guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Pasca-penundaan Kurikulum 2013, maka substansi yang bermasalah tadi bisa menjadi sebuah acuan bagi pemerintah untuk bisa mengembangkan kurikulum Indonesia ke depannya, agar lebih baik lagi untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Kita tentu berharap dibalik pasca-penundaan K-13 (Kurikulum 2013), pemerintah bisa mewujudkan sistem pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi, dengan mematangkan kurikulum yang akan diterapkan di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia nantinya.

“Dari Khalid bin Abi Imran, bahwa Ibn Umar berkata: seringkali Rasullullah saw. ketika hendak meninggalkan majlis, berdoa untuk sahabat-sahabatnya dengan doa berikut : Ya Allah,berikan kepada kami rasa takut kepadaMu dengannya kami terhalang dari kemaksiatan kepadaMu, berikan kepada kami kekuatan untuk taat kepadaMu dengannya aku bisa masuk surga, berikan kepada kami rasa yakin (akan kebaikan takdirMu) dengannya aku merasa ringan menghadapi segala musibah dunia, berikan kepada kami kesehatan agar kami bisa menikmati pendengaran, penglihatan dan kekuatan kami selama kami hidup, dan tetapkanlah kami dalam kesehatan tersebut sampai kami kembali kepadaMu, timpakan keburukan kami untuk orang-orang yg mendzolimi kami, bantulah kami atas orang-orang yang memusuhi kami, janganlah Kau timpakan musibah atas agama kami (iman dan akidah kami), jangan jadikan dunia sebagai tujuan pokok kami, jangan pula menguasai pikiran kami, jangan jadikan orang-orang dzalim mengasai kami. (HR. Imam Tirmidzi, no : 3502, vol. v,h. 262)
[22/04 21:06] Sulipan, MK 75117: Allah tidak menyukai Ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. An Nisa (4): 148)
[22/04 21:08] Sulipan, MK 75117: Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda:
Ada tiga doa mustajab (dikabulkan) yang tidak ada keraguan di dalamnya, yaitu: doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa buruk orang tua kepada anaknya. (HR Abu Daud dan al-Tirmizi. al-Tirmizi berkata: Hadis hasan)

Suatu hari Rasulullah SAW bertanya:
“siapakah hamba ALLAH yang mulia?”
Para sahabat menjawab: “Para Malaikat yaa
Rasulullah, dan tentulah para Nabi, merekalah
yang mulia”.

Rasulullah tersenyum lalu berkata:
“Yaa… mereka mulia tapi ada yang lebih mulia”.
Para sahabat terdiam lalu berkata:
“Adakah kami yg mulia itu, yaa Rasulullah…?”
Rasulullah berkata: “tentulah kalian mulia, kalian dekat denganku, kalian membantu
perjuanganku, tetapi bukan kalian yg Aku
maksudkan..

Rasulullah lalu menundukkan wajahnya,
Sang Baginda meneteskan air mata sehingga membasahi pipi dan janggutnya lalu berkata…

“Wahai sahabatku mereka adalah manusia-
manusia yang lahir jauh setelah wafatnya aku, mereka terlalu mencintai ALLAH & tahukah kalian.. mereka tak pernah melihatku,
mereka hidup tidak dekat denganku seperti
kalian, tetapi mereka sangat “rindu” kepadaku,, dan saksikanlah wahai sahabatku,,, bahwa AKU
SANGAT RINDU PADA MEREKA… MEREKALAH
UMMATKU! ”

Subhaanallaah.. .
Apakah anda Rindu Kepada Rasulullah SAW?

Ya Allah ..
Pertemukanlah kami dengan Rasulullah SAW di akhirat Nanti,,,,
aamiin ya Rabbal’alamiin…